Jumat, 23 Mei 2008

Pesan Diakhir Waktu

Pesan Diakhir Waktu

Cerpen ini dimuat di Harian Sumut Pos

Kalau saja aku tau makna setiap detak detik jarum jam, maka aku tidak akan heran melihat pak tua itu berkali-kali mencocokkan jarum arloji tua di tangannya dengan jam dinding rumahku yang setahun lebih muda dari ku. Pak tua itu seorang pensiunan pegawai negeri spil yang telah puluhan tahun mengapdikan dirinya membangun generasi bangsa yang lebih baik, lewat sekolah negeri tempatnya mengajar. Dia kini tinggal sendiri setelah istrinya mendahuluinya menghadap sang Khalik, anaknya yang paling muda dengan cacat mental dan pengelihatan yang kurang bagus sempat menemaninya melewati hari-hari di rumah tua yang diperoleh dengan mengumpulkan gaji selama puluhan tahun.

“Sudah pukul berapa ini, jarum jamku akhir-akhir ini selalu telat menunjukkan waktu padaku. Padahal, aku sangat takut terlambat. Aku juga sedang menunggu seseorang datang menepati janjinya,” Dia memutar-mutar jarum jamnya dengan hati-hati, tidak seditikpun berbeda dengan jarum di dinding rumahku. Walau dengan mata rabun dia berusaha agar mesin penunjuk waktu yang melingkar di tangannya itu tidak salah.

“Arloji ini sudah tua, walau aku yang jauh lebih tua dari benda buatan penjajah ini. Kalau dulu saya selalu menyesuaikan waktu dengan terbitnya matahari, hingga dia tenggelam,” lanjutnya sambil berjalan menjauh dari tempatku berpijak.

Ada sesuatu yang aneh pada pak tua itu, dia lebih sering melihat jarum jam pada arlojinya daripada orang di sekililingnya. Dalam hitungan menit dia melihat jarum jam itu berkali-kali. Hingga, dia selalu menyesuaikan waktu dengan langkah, lirik dan gerak jari jemarinya. Tidak sedetikpun terbuang dalam mengisi hari-harinya walau waktu yang digunakannya lebih banyak merenung dan menunggu sesuatu yang tidak pernah diketahui orang lain.

Selang beberapa menit kemudian setelah pintu rumahku tertutup. Terdengar suara ketukan pintu mengganggu ruang sepi tempatku berimajinasi, mencari inspirasi untuk ku tuliskan menjadi larik-larik sajak ataupun sebuah cerita dalam dunia fiktif ciptaanku. Aku heran setelah melihat pak tua itu berdiri menunggu aku membukakan pintu untuknya. Dia memegang arlojinya, dan kembali menyesuaikan dengan jarum jam di dinding rumahku.

“Arloji ini kembali terlambat, padahal aku sudah tiga kali menyesuaikannya dengan jarum jam dindingmu. Entahlah, mungkin karena sudah tua. Jadi, tidak bisa sesuai dengan waktu yang sekarang,” Katanya sambil memutar-mutar pengatur arloji yang terlettak di sebeah kiri. Dia berusaha membuat jarum arlojinya sesuai dengan jarum jam dinding rumahku.

“Kalau dulu saya pergi mengajar, berjalan kaki puluhan kilometer dapat saya tempuh dengan waktu hitungan menit saja. Melihat jarum jam pada arloji ini membuat saya selalu tidak ingin ketinggalan. Saya selalu hadir lebih awal daripada anak-anak didikku. Kalau sekarang, untuk mengambil uang pensiun sajapun saya sering terlambat, bahkan terkadang tidak sanggup. Hingga, harus meminta tolong pada tetangga sebelah yang bekerja sebagai guru di sekolah dasar inpres,” Ucapnya sambil melangkah meninggalkanku kembali.

Pak tua itu memang dikenal sebagai salah seorang guru yang sangat disiplin terhadap waktu pada masa pengapdiannya dulu. Kedisiplinan itulah yang membuat banyak anak didiknya menjadi orang-orang yang memiliki kekuasaan di Negara ini. Pak tua itu sering mendapat kertas-kertas bertuliskan penghargaan. Walau yang lebih dibutuhkannya adalah biaya pengobatan anaknya dan kesejahteraan yang lebih layak.

“Di hati guru seperti kami yang ada adalah niat untuk mencerdaskan generasi seperti kalian. Kalau dipikir-pikir, totalitas kami untuk membangun negara ini sangatlah tinggi. Keinginan belajar anak didik kamipun demikian. Tidak seperti sekarang, seorang anak justru mengandalkan deking dari pada kemanpuan pikirannya,” Itulah sepenggal keresahan yang pernah diceritakannya padaku. Tentang perjuangan mereka dulu yang tidak diikuti oleh para penerus di negeri ini.

“Saya dulu menjadi guru bukan karena gajinya tinggi, seringkali upah rupiah yang kami dapat hanya sanggup untuk membeli beberapa kilo singkong sebagai pengganti beras. Tetapi, kami bertahan sebagai pendidik di negeri ini. Walau, saat sekarang ini tidak ada lagi yang peduli dengan kami,” Kekecewaan sering terucap dari mulutnya, meskipun negeri yang dibangunnya kini jauh lebih maju daripada jaman yang pernah ditaklukkannya.

Pak tua dengan arloji tua. Seperti dua mahluk berbeda yang saling memperhatikan. Tidak terpisahkan sekalipun langkah mereka tidak lagi beriringan, nafas mereka tidak serentak berhembus mengisi ruang pengap hasil dari upah yang didapat selama berbakti dan mengapdi pada negara. Pak tua itu memeliki beberapa orang putra dan putri, yang selalu menjadi beban hingga usianya yang melebih usia negeri ini. Sangat memprihatinkan, semestinya di usia tua itu dia dapat tersenyum menghitung waktu. Bukan resah menunggu sesuatu.

-o0o-

Hari berikutnya, seperti biasa dia selalu bangun mendahului matahari terbit. Jejak kakinya selalu yang pertama menapaki jalan setapak di depan rumah tuanya. Yang hanya sering dilalui pengembala dengan kawanan ternaknya. Dia menggedor pintu rumahku dengan begitu keras, seperti seseorang yang sedang marah pada penghuni rumah. Menagih sesuatu yang pernah di janjikan.

“Lama sekali kamu bangun, sudah pukul berapa ini. Arlojiku sepertinya tidak sesuai dengan waktu yang sebenarnya. Biasanya aku bangun pukul lima. Tetapi, arlojiku masih menunjukkan pukul tiga. Aku yang terlalu cepat bangun atau arlojiku yang sudah tidak sanggup lagi berputar mengelilingi lingkaran kecil tempatnya bertualang,”

“Pak, ini sudah pukul lima. Arloji bapak yang sudah rusak,” Jawabku sembari membersihkan kotoran mata yang selalu kudapati setiap pagi.

“Berarti aku masih tepat waktu, arlojiku yang sudah tidak waktunya lagi,” ucapnya sembari memutar kembali pengatur jarum jam pada arloji itu.

Ada seseorang yang berjanji padaku, sebenarnya dia berjanji kemarin. Pukul tiga! Tetapi, ini sudah pukul lima pagi. Dia belum juga datang menepati janjinya,”

“Janji apa yang bapak tunggu, dari semalam bapak selalu resah dengan waktu. Apakah janji itu yang membuat bapak selalu menyesuaikan jarum jam di rumahku dengan arloji bapak ? Tanyaku pada bapak tua itu.

“Janji itu sangat berharga, dan yang kutunggu itu juga sangat penting. Aku tidak akan tenang sebelum itu ada di depanku. Jikalau bisa, tolong datang kerumah bapak sore nanti. Aku sudah tidak yakin lagi dia akan datang dan menepati janjinya padaku,” Kemudian bapak tua itu pergi menuju rumahnya.

Dia melangkah membawa wajah lesu bersembunyi ke dalam rumah tuanya. Tidak melirik kiri kanan dan mengabaikan arloji yang digenggamnya. Dia berjalan bersama kekecewaan pada seseorang yang berjanji padanya. Janji itu seperti kata kunci dalam hidupnya. Dia tidak memiliki keluarga lagi untuk berbagi, seringkali keresahan dalam jiwanya di ceritakan pada awan, bunga dan entah apa saja yang ada di dekatnya. Anak-anaknya pergi entah kemana. Keterbatasan ekonomi yang dimiliki anak-anaknya membuat dia jarang dikunjungi.

Putranya yang paling tua dulunya adalah seorang pelajar terbaik, yang tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya yang dimilikinya. Sementara putrinya hanya dapat menuntu ilmu sampai kelas enam sekolah dasar saja. Pada waktu itu istrinya membutuhkan biaya yang banyak untuk mengobati penyakit yang biasa di derita masyarakat kurang mampu. Demikian juga dengan anaknya yang paling kecil. Menderita penyakit kurang gizi yang menyebabkan buta dan kemampuan berpikir yang rendah.

Anak-anaknya kini entah dimana. Beberapa bulan yang lalu putrinya datang menjenguk bapak tua itu, anak perempuannya itu mencari nafkah menjadi salah seorang kariawan kecil di salahsatu perusahaan swasta di kota seberang. Untuk mengurangi beban hidup ayahnya, perempuan itu membawa adiknya yang dulu menemani ayahnya. Hingga tinggal pak tua itu seorang diri di rumah tuanya.

Dia menganggap pengapdian pada negara adalah hal yang terpenting. Jika negara maju, maka masyrakat kecil seperti diapun akan sejahtera. Itulah yang terbersit dalam pikirannya. Namun, semaju apapun negara ini dia hanya dapat mendengarnya saja. Tidak merasakannya sama sekali.

Rumah pak tua itu berada tepat di belakang rumahku, jalan setapak menuju sawah yang terletak di samping rumahku adalah jalan satu-satunya menuju rumah tua itu. Berlumpur dan banyak lobang-lobang kecil yang sering digenangi air. Dia tinggal di sana sudah hampir duapuluh tahun. Sejak istrinya meninggal, dia memilih untuk menyepi. Agar tidak resah sendiri melihat kebahagiaan masyarakat di sekelilingnya. Mengasingkan diri dari pemukiman masyarakat sejahtera yang tidak pernah peduli padanya.

Di depan rumahku, ada sebuah rumah kumuh yang dihuni oleh seorang guru yang mengajar di sekolah dasar. Guru yang sudah memiliki tiga orang anak itu sering dikunjungi oleh pak tua. Pada guru itulah dia sering meminta tolong untuk mengambilkan uang pensiunnya, yang digunakan untuk melangsungkan sisa hidupnya. Pak tua itu juga sering memberikan sebagian dari gaji pensiunnya untuk membantu biaya hidup guru itu. Hal itu dilakukannya sejak anak-anaknya memilih untuk tidak memberitahukan alamat mereka pada pak tua yang dulunya sering mengirimkan uang pensiunnya untuk membantu perekonomian keluarga anak-anaknya.

Banyak harapan yang masih terendap di dalam benak pak tua itu. Tentang suatu negara yang menghargai guru sebagai pembangun generasi. Tidak cukup upah kecil walau dengan status pegawai negeri spil. Dia berharap seorang guru dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai ke ujung dunia. Seperti pejabat-pejabat yang lebih percaya pada negara asing dari pada negeri sendiri.

Namun, sampai saat ini itu belum terujut. Bahkan untuk bermimpi tentang hal itupun pak tua itu sudah pesimis. Dia melihat guru di depan rumahku yang masih jauh dari garis kesejahteraan. Bahkan sama dengan pemulung yang mengais sampah untuk diubah menjadi makan pokok. Sekalipun almamater pendidik melekat dipundak mereka. Pak tua itu perihatin melihat nasip para penerus perjuangannya. Dia pernah mengungkapkan ketakutannya, jika suatu saat nanti anak-anak akan takut bercita-cita menjadi seorang guru.

-o0o-

Aku mengamati rumah tua itu, kayu-kayu belapuk dan lombang rayap sepertinya telah menjadi warna hunian seorang abdi negara. Sunyi, tidak ada suara yang mendendangkan lagu-lagu pendidikan seperti biasa pak tua menyanyikan lagu itu dengan semangat mengenang perjuangannya dulu sebagai seorang pendidik. Aku mengamati rumah itu. Melihat sekeliling, barang kali pak tua sedang berada di wc yang terletak terpisah di belakang rumahnya. Namun, tidak setetespun terdengar percikan air. Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk dari dalam rumah. Aku yakin, itu adalah suara batuk pak tua.

“Pak…., pak….. aku sudah datang,” Sapaku dari luar rumahnya.

“Masuklah, pintu tidak kunci,” Akupun membuka pintu rumah, dengan liar mataku melihat sekelili tempat tinggal pak tua itu. Bau pengap dan tidak terurus sama sekali. Rumah itu tidak memiliki sekat ataupun ruang tidur khusus. Ada kompor yang warnanya telah menghitam, satu kuali dan satu periuk. Beberapa piring dan cangkir plastik serta cawan-cawan murahan anti pecah. Semua itu terletak tidak jauh dari tempat tidur pak tua itu berbaring. Ada kursi yang warnanya sudah pudar dan tidak begitu kokoh lagi untuk diduduki.

“Masuklah, tarik kursi itu ke dekatku. Aku ingin mengatakan sesuatu,” Pak tua itu berbaring berselimutkan sarung kusam yang sudah lama tidak dicuci. Dia mengeser pandangannya ke arahku, sembari bertanya “ Sudah pukul berapa ini. Arlojiku sudah terlalu terlambat. Aku hanya mendengar bunyi lonceng gereja, biasanya lonceng itu berbunyi tepatnya pukul enam pagi dan sore. Tetapi setelah lonceng itu terdengar, aku tidak tau lagi sekarang pukul berapa”

“Ini sudah pukul tujuh sore pak, apakah bapak masih menunggu seseorang yang berjanjin pada bapak. Siapakah orang itu pak, agar aku memanggil dan menyuruhnya menemui bapak,”

“Tidak perlu, pasti dia belum bias menepati janjinya. Dia sudah sering berjanji padaku, dan baru kali ini dia tidak tepat pada janjinya. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya belum bias datang dan membawa uang pensiunku,” Aku hanya diam saja mendengar kata-kata pak tua itu, walau sebenarnya aku mengerti mengapa pak tua itu memanggil aku datang kerumahnya.

“Sudah dua bulan aku tidak menerima uang pensiunku, aku iklas jika itu digunakan untuk menghidupi keluarganya. Saya mengerti susahnya kehidupan seorang guru di banding pegawai yang bekerja di instansi negara lainnya yang dapat korupsi dan mengambil sebagian uang rakyat.” Kata pak tua itu padaku.

“Saya sebenarnya tidak membutuhkan uang untuk makan enak dan membeli perlengkapan rumah tangga yang lebih layak. Hidup seperti inipun saya sudah senang, walau tidak pernah tenang,” Bapak tua itu melihatku kembali dengan wajah pucat dan tatapan yang tidak begitu tajam.

“Saat ini aku tidak memiliki sesuatu, hanya ada arloji yang selalu telat ini dan di bawah kasur ini ada kalung dan sepasang cicin kawin ku dengan mendiang istriku. Aku tidak ingin itu terjual, karena tinggal itu yang aku punya sebagai kenangan untuk anak cucuku kelak,” Dia tidak sanggup untuk bangkit dari pembaringannya, seperti ada sesuatu beban di atas tubuhnya yang membuat dia tidak dapat bangun dan duduk bercerita padaku.

“Jika aku pergi, tolong berikan itu pada anak-anakku, agar mereka dapat mengenang aku. Aku tau mereka sangat mencintaiku. Mereka ingin melihatku menikmati gaji pensiunku, dan tidak mengirmkannya pada mereka. Hingga mereka tidak pernah memberitahukan alamat mereka padaku. Tetapi aku yakin mereka akan kembali untuk menjengukku,”

Pak tua menitipkan amanahnya padaku, aku sudah yakin bahwa usia pak tua itu sudah tidak lama lagi. Walau, tadi pagi aku melihatnya masih segar datang dan mencocokkan jarum jam arlojinya dengan jam dindingku. Aku dapat merasakan itu dari amanah yang di berikannya padaku. Namun, aku belum juga tau siapa dan untuk pak tua itu menunggu seseorang.

“Nak, seseorang yang kutunggu itu adalah harapanku satu-satunya. Aku ingin menerima gaji pensiunku bulan ini agar ada membeli peti matiku. Tetapi, dia tidak datang untuk membawa uang pensiun itu,” Suara batuknya yang begitu keras membuatku tersentak dari tanyak di hatiku. Aku bergegas mengambil secangkir air yang terletak di sampingnya. Kemudian memberikan air itu untuk di teguknya.

“Aku akan pergi. Namun, aku berharap kau mau membuatkan peti matiku dari papan dinding rumahku ini. Aku tidak perlu menunggu dia lagi datang dan membawa gaji pensiunku. Mungkin dia lebih membutuhkannya…..,”

Air yang kuberikan padanya adalah tegukan terakhir yang dia minum. Dia pergi dengan damai setelah menitipkan amah itu padaku. Kemudian, kutemui penduduk sekitar dan memberitahukan bahwa dia telah pergi.****

Dolok Sanggul, Agustus 2007

Tidak ada komentar: