Jumat, 23 Mei 2008

Andung Ni Dainang[i]

Andung Ni Dainang[i]

Cerpen ini telah dimuat di harian Sumut Pos



Sudah tujuh kali aku menunggu bus malam di halte itu. Malam itu, aku melihat seorang perempuan yang sepertinya masih seusia dengan ibuku. Perempuan itu memikul keranjang dan mengumpulkan botol minuman bekas. Aku melihat punggungnya menunduk mengambil sebuah botol di dekatku, dengan wajah ditutupi sehelai kain. Hingga yang terlihat hanya mata lelah yang ingin beristirahat. Aku sempat bertatap mata dengannya. Namun, bus kota membuat aku harus berlari meninggalkannya tanpa menyapa atau memberikan sedikit senyum membalas tatapan itu. Di dalam bus aku selalu terbayang mata perempuan itu, sorot tajam menyiratkan ketakutan membuat ku bertanya-tanya tentang dia.

“Mungkin anaknya seusiaku, atau mirip denganku. Ah, hanya suatu kebetulan saja ibu itu menatapku. Barangkali ibu itu memang memiliki kelainan penglihatan,” Itulah yang terbersit dalam pikiranku. Hingga bayangan ibu itupun berlalu bersama bus yang membawaku meninggalkan tempat itu.

Aku tiba-tiba teringat pada ibu, ketika melihat seorang perempuan memeluk goni bekas masuk di halte selanjutnya. Perempuan itu duduk di sampingku bersandar dan memejamkan mata, melepas lelah dengan bau asam dari tubuhnya. Aku tidak merasa jijik, bahkan serasa ibuku sedang duduk di dekatku dan meletakkan kepalanya di atas pundakku. Sebenarnya aku juga lelah, menjelajahi gedung perkantoran dan pabrik-pabrik demi menjatuhkan lamaran pekerjaan yang entah keberapa. Namun, aku tidak ingin ibu itu kesal atau marah tidurnya terganggu jika aku pindah ke kursi penumpang lain.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan gang kecil menuju rumahku. Setelah bus berhenti, aku membangunkan ibu itu.

“Maaf ibu, saya ingin turun.” Perlahan dia membuka mata kemudian tersenyum dan menggeser kakinya dari hadapanku. Seperti biasa, aku tiba setelah adik-adikku tidur. Aku masuk mengambil kunci yang diselipkan di nako rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar itu. Di kamar adik perempuanku masih sendiri, ibu belum pulang dan menemaninya tidur. Sementara di ruang tamu yang sekaligus tempat ranjang ukuran enam kaki peninggalan ayahku, ada adik laki-lakiku. Mereka semua sudah tidur nyenyak, bahkan mereka tidak tau kalau aku sudah tiba di rumah.

Ibu tidak pernah memberitahukan apa pekerjaannya di luar sana. Ibu hanya berkata bahwa pekerjaan itu halal. Pergi siang pulang menjelang subuh. Dia pergi tidak membawa apa-apa. Namun, setiap pulang dia selalu meletakkan beberapa rupiah uang untuk ongkos kami bepergian. Kami pergi saat dia menyembunyikan lelah dalam tidurnya yang tidak nyeyak. Bahkan, ibu tidak tau apa yang dilakukan anak-anaknya di luar sana. Hanya ada sebuah keyakinan di hatinya, bahwa kami tidak akan menyianyiakan perjuangannya.

-o0o-

Malam selanjutnya, aku bertemu lagi dengan perempuan itu. Dengan baju yang ditutupi plastik anti hujan yang membuatnya dapat melanjtukan aktifitasnya sehari-hari. Walau hujan turun dengan begitu deras. Dia tidak berhenti mengumpulkan botol minuman bekas. Bahkan, sesekali dia harus berebut dengan sesama rekannya untuk mendapatkan botol-botol yang terbuang itu. Dia tidak menghampiriku walau dia melihat di dekatku ada beberapa botol minuman yang berserakan. Aku memungut botol minuman itu, kemudian memanggilnya.

“Ibu.., ibu…” Dia tidak menjawab. Namun membiarkan aku mendekatinya dan menerima botol-botol itu dari tanganku. Kemudian pergi entah kemana, meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ibu itu tidak menatap aku lagi seperti tatapannya pertama kali bertemu denganku dulu. Namun aku tersenyum, dapat melihat kedua bola mata yang menyimpan lelah itu. Aku semakin sadar pentingnya sebuah perjuangan untuk mencapai cita-cita.

Kembali aku harus segera berlari mengejar bus kota yang sudah berhenti hampir lima meter melewati halte tempat ku menunggu. Hingga aku melupakan mata lelah itu sejenak, walau seperti biasa ibu yang naik dengan memeluk goni di halte selanjutnya membuat aku kembali teringat pada ibu. Bau asam keringat perempuan itu sudah menjadi wewangian yang membuat aku tidak patah semangat. Perempuan itu berjualan di pajak sore. Hingga pulang tengah malam membawa beberapa rupiah dari keuntungan berjualan sehari-hari. Itulah yang pernah dikatakannya padaku setelah beberapa kali menaiki bus yang sama dan duduk berdekatan denganku.

Itu sudah digeluti perempuan itu sekitar dua puluh tahun yang lalu. Semua itu di lakukannya untuk memperjuangkan anak-anaknya yang kini duduk di perguruan tinggi. Tidak jauh berbeda dengan ibuku. Hanya saja, kami tidak pernah tau apa yang dikerjakan ibu di luar sana. Ibu hanya meyakinkan kami bahwa pekerjaan itu halal.

-o0o-

Aku anak pertama di keluarga ini, yang menyelesaikan pendidikan strata satu dengan nilai akhir sangat memuaskan dari salah satu perguruan tinggi swasta ternama di kota tempat ayah dan ibuku merantau ini. Beberapa tahun yang lalu saya menyelesaikan pendidikan itu, walau belum juga ada panggilan dari ratusan lamaran pekerjaan yang aku jatuhkan. Sudah hampir dua tahun aku melihat photo wisuda dengan toga hitam serta sebuah sertifikat hasil perjuanganku selama lima tahun itu. Namun, belum juga dapat gantikan lelah ibu.

Seperti ada rasa ketakutan pada ibu, jika kami mengetahui apa propesinya. Dia merasa kami akan patah semangat bila dibayang-bayangi propesi itu. Hingga akhirnya, kami memilih diam dan mensyukuri apa yang diberikan Tuhan melalui kasih sayang seorang ibu, yang terus berjuang hingga sekarang. Dia tidak pernah lelah bekerja untuk kami, yang tidak tau kapan dan dengan cara apa jasa-jasa itu dapat kami balas.

Diusianya sekarang semestinya dia duduk sambil menikmati perjuangannya. Namun, melihat adikku yang masih giat menuntut ilmu membuatnya semakin gigih untuk terus berjuang mengumpulkan rupiah demi rupiah agar dapat melanjutkan pendidikan itu ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sebagaimana ibu selalu berkata bahwa anakkon hi do hamoraon di au[ii].

Aku mau mengerjakan apapun untuk membantu kebutuhan keluarga, yang menjadi penghalang adalah perjuangan ibu. Aku tidak ingin dia prustasi melihat anak yang disekolahkan dengan perjuangan yang begitu besar hanya bekerja apa adanya saja, sama dengan mereka yang tidak berpendidikan. Secara langsung ibu berkata bahwa kamilah infestasinya untuk masa depan. Yang harus memperbaiki derajat keluarga dengan berlandaskan kasih. Dia tidak meminta kami kelak memberikannya harta yang berlimpah, cukup menunjukkan keberhasilan dari perjuangannya.

Demikianlah selalu yang tersirat dalam setiap perjuangan ibu yang masih memengang teguh filosopis leluhur kami. Dimana generasinya harus lebih tinggi derajatnya dari pendahulunya. Walau kini, sudah banyak perempuan-perempuan itu yang justru meniadakan perjuangan untuk generasinya. Bahkan, aku pernah menemui seorang anak yang dipaksa ibunya untuk menjadi pengemis. Ada juga yang dipaksa ibunya untuk menjual diri.

-o0o-

Halte itu kini telah menjadi persinggahanku. Terlebih setelah aku diterima bekerja di salah satu perusahaan penjualan mata uang asing sebulan yang lalu, yang kantornya berdekatan dengan halte itu. Perusahaan tempatku bekerja menjanjikan gaji yang lumayan serta bonus jika pekerjaanku memberikan hasil yang memuaskan untuk perusahaan. Namun, sudah hampir satu bulan juga aku tidak pernah bertemu dengan perempuan pengumpul botol bekas itu. Akupun sudah tidak begitu memikirkan dia lagi. Walau di hati kecilku ingin memberikan sesuatu dari apa yang kudapat hari itu.

Hari pertama sekali aku menerima gaji setelah bekerja di perusahaan itu. Ditambah ratusan ribuh rupiah bonus karena hasil pekerjaanku yang sangat memuaskan. Cukup lumayan uang yang kuterima sebagai imbalan kerjaku bulan itu. Bahkan aku ingin segera pulang dan berpesta dengan keluargaku. Menikmati makanan mewah yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, yang ku beli di toko makanan dekat halte tempatku menunggu.

Tidak sabar aku ingin memberikan semua yang kudapat itu kepada keluargaku. Aku terus menunggu bus kota. Entah mengapa malam itu, bus yang biasa kutompang terlambat hampir satu jam. Tiba-tiba mataku melihat perempuan itu muncul entah dari mana. Mataku terus tertuju padanya, berjalan bahkan sedikit berlari mendekatinya.

“Ibu, apa kabar.” Seperti tersentak dia mendengar sapaanku. Dia menoleh kemudian menatapku dengan sorot mata tajam, sebagaimana dia melihat aku pertama kali. Aku mengambil dua lembar rupiah berbahan plastik yang masih licin dan mengkilau. Itulah pertamakali aku memiliki uang pecahan rupiah sebesar itu. Hingga aku hafal nomor seri uang yang ku berikan pada ibu itu.

“Setiap kali melihatmu aku selalu teringat ibuku. Hingga aku tidak pernah putus asa untuk mencari pekerjaan karena ingin membahagiakan ibuku. Aku tidak tau apa pekerjaan ibuku. Namun, semua ibu yang berjuang untuk anaknya pantas mendapat penghargaan dari siapapun,” Ibu itu terus menatapku, dari mata lelahnya aku melihat ada beberapa tetes mutiara bening yang jatuh.

“Mohon terima ini, dan teruslah berjuang. Kelak anak-anakmu akan menghadiahkan hidupnya untukmu. Sebagaimana kau telah mengorbankan hidupmu untuk mereka,” Aku memberikan uang itu padanya. Dia tidak berkata apapun padaku. Hanya menjawab lewat tetes-tetes airmatanya.

Akupun kembali berlari mengerjar bus kota yang kutunggu, tidak sabar ingin bertemu dengan adik-adikku di rumah. Seperti biasa juga, ibu dengan goni bekas itu naik di halte selanjutnya. Aku tersenyum padanya dan menceritakan kebahagian yang menemaniku hari itu.

“Aku membeli banyak makanan, dan yang ini untuk ibu. Suatu saat ibu akan beroleh lebih dari apa yang perjuangkan hari ini,” Kataku sambil memberikan makanan kemasan yang kubeli. Saat turun aku membayar ongkos ku dan ibu itu. Kemudian, berjalan dengan langkah kaki cepat menuju rumah kontrakan kami. Aku ingin segera membangunkan adik-adikku, memberikan apa yang kubawa untuk mereka.

Dengan rasa bangga yang ditemani tetes-tetes airmata, aku melihat adik-adikku menikmati makanan itu. Sesekali mereka memberiku beberapa pertanyaan tentang pekerjaan yang kugeluti. Aku bahagia dapat memberikan semua itu untuk mereka. Walau, belum puas jika tidak menggatikan semua perjuang ibu untuk kami. Mengambil alih tanggungjawab menyekolahkan adik-adikku.

-o0o-

Pagi hari saat ingin pergi bekerja, aku menemui ibu di kamar tempatnya berbaring membuang lelah. Ingin segera memberikan beberapa rupiah dari gajiku bulan ini untuk digunakan membeli keperluan keluarga. Namun, ibu masih terbaring nyenyak. Sepertinya dia sudah memperoleh sebuah kebahagiaan dari lelahnya. Aku melihat itu di wajahnya yang berbaring dengan paras bahagia. Tidak pernah dia tidur senyenyak itu. Dia mungkin sudah mengetahui sukacitaku dari adik-adikku.

Aku tidak ingin mengganggu tidurnya. Namun, aku niatkan untuk memberikan uang yang kuperoleh padanya hari itu juga. Aku melihat dompetnya yang terletak di samping kepalanya. Mengambilnya dan membuka dompet itu. Aku tiba-tiba tersentak, dua lembar rupiah dari bahan pelastik yang ku berikan pada perempuan pengumpul botol bekas itu ada di dalam dompetnya.

Aku menangis dan ingin rasanya memeluk ibu. Namun, aku tetap tidak ingin mengganggu tidurnya. Kumasukkan beberapa ratus ribu rupiah ke dalam dompet itu. Kemudian pergi setelah mencium keningnya(***)

Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan 2007

***

Cerpen ini terinsfirasi dari lagu Sesep Ni Pangalaho ciptaan Dr Marusaha Lumban Gaol, dan ku persembahkan kepada inang-inang (Ibu-ibu) yang terus berjuang untuk anak-anak mereka. Terlebih yang tinggal di Medan, Sumatera Utara

Referensi dari bahasa Batak Toba


[i] Anndung Ni Dainang : Kesedihan seorang ibu /Kecemasan seorang ibu/Harapan seorang ibu

[ii] anakkon hi do hamoraon di au : Anakkulah kekayaan bagiku

1 komentar:

gembelkere.blogspot.com mengatakan...

Kenalkan bank. nama saya farulian tapubolon. saya anak jambi ingin bergabung dengan blog nya abank ini. berhubung saya tidak terlalu tau banyak tentang adat batak. salam kenal ya banx