Jumat, 23 Mei 2008

Aek Sibundong[i]

Aek Sibundong[i]

Telah dimuat di Harian ANALISA

Aku bingung harus menuliskan apa, walau telah aku jelajahi waktu dengan mengkhayal. Entah sudah berapa gelas kopi kuhabiskan di meja perenungan, pun tidak menghitung berapa kali bulan bersinar di malam yang tidak aku nikmati. Aku mencoba seperti penulis lain yang dengan mudah dapat membuat pena menari-nari di atas kertas tempat sejuta inspirasi tertuang. Namun, aku tidak sanggup seperti itu. Menulis perjalananku pun aku bingung. Padahal, telah kutelanjangi hati berjubah kekecewaan ini, dan telah pula kukuliti jiwa yang selalu resah.

Keputusanku malam ini untuk menjadikan kisah kita sebagai cerita untuk mereka bukanlah tanpa pertimbangan. Karena di ujung malam tempat aku merenung ada namamu. Aku telah berusaha menghapusnya dari ingatan. Namun, tinta yang kau gunakan untuk menuliskannya di dalam hatiku terlalu tebal. Hingga, setiap saat kau selalu terbayang. Kau selalu singgah walau sejenak. Mengganggu ketenanganku. Andai aku dapat menemuimu saat ini, aku akan memohon padamu agar jangan mendekati ataupun singgahi khayalanku.

Kau jadikan aku lelaki pencari langkah tanpa jejak, kala aku kebingungan untuk mengatakan ya atau tidak. Aku mengerti dengan semua pertanyaanmu. Tetapi, pernahkah kau mencoba memahami setiap kebisuanku. Di dalam hatiku ada namamu, dia, dan yang lain. Hingga tak pernah ada ketenangan di dalam diri yang membisu ini. Walau keseharianku penuh dengan pengungkapan kejujuran, antara benar atau tidak.

Perempuanku yang tidak kumiliki, aku jujur dalam kebisuan ini. Lewat inilah aku mengungkapkan kenyataan tentang aku dan kau. Aku memang tidak pernah berbohong pada perenungan. Tetapi, tak sekalipun aku pernah jujur dengan kenyataan. Aku tahu siapa aku. Walau, aku tidak mengerti bagaimana aku. Aku harus berkata padamu sebuah kenyataan. Tentang kita berdua.

Bukan perbedaan latar belakang pendidikan yang membuatku meninggalkanmu. Sebuah kutukan yang begitu seramlah buat aku tidak dapat menerima adamu. Kita memang telah bersama menapaki waktu tanpa perbedaan. Pengetahuan dan pendidikan telah membawa kita pada suatu perubahan. Namun, sumpah leluhur masih mengikat kita agar tidak salah melangkah, hingga kutinggalkan kau atas nama cinta sebagaimana leluhur kita pun tiada atas nama cinta.

-000-

Bila mungkin waktu dapat kembali ke masa lampau, pada saat kasta masih melekat dalam kehidupan di tempat ini, maka kita akan memperbaiki semua kesalahan itu. Tetapi, kita hanya dapat mengisi waktu sekarang dengan kenyataan dan yang akan datang dengan harapan. Karena kita bukan Tuhan, penguasa atas segala sesuatunya.

Berhentilah menangis. Airmatamu hanya sanggup basahi jubah jiwa yang melekat di ragaku. Jangan habiskan waktu dengan kekecewaan. Ini bukan salah kita, bukan juga dendam atas apa yang pernah terjadi. Lebih baik kita bangkit dan berjalan melangkah ke arah yang berbeda. Agar tidak ada lagi pertemuan antara generasiku dan keturunanmu. Berdoalah pada Tuhan, agar kelak semua yang terjadi dapat berubah pada kehidupan yang tidak memiliki batas.

Sebuah cerita masa lalu terulang kembali, kala kita memadu cinta di pinggir sungai tempat aku dan kau bertemu. Aku bertanya pada inang[ii], kenapa keluarga kita tidak dapat bersama, seperti dongan sahuta[iii] yang lain, bertegur sapa dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Yang terjadi justru saling menjauh dan membenci, walau kita saling mencinta. Tetapi, tetap saja itu tidak sebanding dengan dendam masa lalu yang membuat kita begini. Entah zaman apa ini, yang masih menganut paham perbedaan derajat antara si miskin dan si kaya, si pengembala dan majikan.

Kita telah berusaha mengubah pandangan itu, agar perbedaan dapat menyatu dan memberkati cinta kita, memberi kehidupan tanpa hujatan, dan menaburi langkah kaki dengan puja-puji pada Sang Kuasa. Namun, aku hanya generasi hatoban[iv] pengembala kawanan ternak sang raja yang tidak dapat memberikan kuda putih[v] perlambang penghormatan dan penyembahan pada raja. Walau kita telah memiliki sejuta mimpi tentang masa depan cerah, usai masa kelam itu, yang penuh dengan golongan, batas, dan hujatan.

Kau selalu bertanya mengapa aku tidak dapat menerima adamu. Padahal, kau seorang wanita terdidik dengan segala ilmu pengetahuan dan kemajuan yang telah melekat di benakmu. Leluhur tidak pernah membayangkan bahwa akan ada pertemuan generasi mereka setelah zaman itu. Segala kebijakan mereka telah membuat kita menderita oleh karena cinta.

Sekuat apapun cinta yang kita miliki, tidak akan pernah sanggup melawan kutukan cinta mereka. Mungkin, sumpah itu diikrarkan agar tidak terulang kembali kisah cinta dengan bunga-bunga perbedaan yang mencoreng harga diri sang penguasa. Namun, perlu ditegaskan bahwa keturunan kami tidak selamanya menjadi perusak kesucian raja, barangkali kutukan itu sudah dapat diakhiri setelah ini. Karena kutukan itu hanya membuat banyak jiwa merana tanpa mempelai yang mengisi ruang hati anak manusia.

-000-

Ada sumpah di masa lampau tentang dua marga di tempat ini yang tidak boleh menyatu. Antara margaku dan marga natua-tuam[vi]. Kisah pemuda anak seorang pengembala. Mendiang oppungmu[vii] orang terpandang. Awalnya tempat ini adalah milik keturunan margamu. Hingga terjadi beberapa konflik yang menimbulkan permusuhan yang menjadikan sungai ini batas antara dusunmu dan dusunku.

Perbedaan antara tuan dan pengembala tidaklah begitu berpengaruh sebagai batas hubungan antar derajat. Leluhur telah mengetahui akan kekuatan cinta dapat melebihi kekuatan apapun. Hingga diciptakan tatanan adat istiadat yang memberikan ruang untuk menyatukan cinta tersebut, sekalipun antara dua anak dari derajat yang berbeda. Namun, bagi leluhurmu tidaklah demikian. Harga diri seorang raja lebih mahal dari pada nyawa seorang manusia, mengorbankan anak untuk kekuasan pun tidaklah masalah.

Aku dapat melawan ribuan musuh dengan tunggal panaluan[viii] peninggalan leluhurku. Tetapi, aku tidak sanggup melawan sahala ni da oppung[ix], yang selalu singgah pada setiap perenunganku, dan mengingatkanku akan kisah yang telah berlalu. Namun, masih terjadi. Aku hanya dapat melihat Aek Sibundong yang kini semakin kotor dengan sampah-sampah manusia yang tidak menghargai kehidupan. Mencoba merenung, apakah mungkin di air keruh itu ada sumpah leluhur.

Aek Sibundong, tempat anggi[x] oppungku bertemu dengan iboto[xi] oppungmu, memadu cinta yang menjadikan sebuah zaman pertikaian. Perempuan bidadari di tempat itu adalah keturunan si suan bulu[xii] dan margaku adalah komunitas pendatang, pengembala ternak para tokoh pemilik kekuasaan di tanah kita ini.

Cinta sang lelaki telah telah membuat musibah besar bagi golongan hatoban. Seandainya tidak terjadi maka kelompok hatoban dapat bekerja mencari nafkah di wilayah kerajaan margamu. Cinta telah membutakannya akan perbedaan, membuat dia menyapa putri yang semestinya haruslah disembahnya. Demikian juga sang putri, yang mencintai lelaki yang seharusnya diperbudaknya. Tidak tahu bagaimana mereka dulu dapat saling mencintai. Hanya saja merekalah penyebab semua ini terjadi, dan dendam pun diciptakan turun temurun.

Ketika kisah cinta mereka diketahui oleh leluhurmu, terjadilah konflik antarmarga. Penindasan pun semakin dikuatkan kepada hatoban, yang memaksa satu persatu leluhurku pergi meninggalkan tempat itu. Lelaki itu teguh pada cintanya. Dia berusaha membawa perempuan itu pergi bersamanya. Namun, dia lemah dan tidak sanggup melawan para pesuruh yang siap mati demi menjalankan perintah sang raja. Mereka berpisah di Aek Sibundong, saat nyawanya telah berada di ujung pedang laskar-laskar kekejaman.

Saat nafas mendesah kesakitan oleh karena tusukan pedang di tubuh lelaki hatoban itu, dia berpesan pada perempuan itu, “Jika kau rindu padaku, pergilah ke Aek Sibundong, basuhlah tubuhmu di sana, karena aku ada di situ.” Kemudian dia pun mati dan dibuang ke sungai itu. Begitu besarnya cinta sang putri terhadap lelaki hatoban, membuat dia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, terjun ke sungai. Dia tidak ingin berpisah dengan lelaki pujaannya, bahkan pada kematian pun dia mengikutinya.

Kematian sang putri merupakan lambang dari sehidup semati, kesetiaan dan pengorbanan yang tidak ada duanya. Walau sang raja menganggap itu adalah kutukan karena mencintai seorang pengembala ternak. Raja tidak ingin kisah itu terulang kembali. Penyiksaan pada leluhur kami pun semakin menjadi-jadi. Para keturunan hatoban diasingkan di seberang Aek Sibundong, sebuah perkampungan tandus dengan bukit berbatu yang tidak dapat ditumbuhi tanaman apapun. Agar mereka menderita dan tidak dapat bertahan hidup.

Leluhurku yang teraniaya merasakan itu sebagai pesan hidup yang harus dibalaskan. Mereka bersumpah di atas Aek Sibundong, bahwa setiap generasi sang raja yang mencintai generasinya akan menderita dan teraniaya dalam kehidupannya. Saat sumpah itu diucapkan terlihatlah mendung dan gemuruh di langit, pertanda sumpah itu di setujui bumi. Mereka pun berjuang terus untuk hidup dan bertekat menjadikan generasinya yang terbaik. Tuhan menunjukkan banyak cara untuk memperbaiki nasib mereka, setelah satu persatu dari mereka tiada oleh karena penderitaan. Akulah generasinya kini.

Jika kutinggalkan kau di sana dengan ketidakpastian, bukanlah karena aku tidak dapat menerima perbedaan golongan. Aku memang sudah hidup dengan modernisasi. Tetapi, aku masih menjunjung tinggi pesan-pesan peradaban. Karena aku bagian dari semua itu. Maka, biarkanlah aku pergi mencari kepastian. Damailah engkau dengan penantian. Semoga kita berdua menemukan kebahagiaan kekal. “Jika kau rindu padaku, pergilah ke Aek Sibundong, basuhlah tubuhmu di sana. Karena aku ada di situ.” (****)


[i] Aek Sibundong: Sebuah sungai di daerah Dolok Sanggul, sungai ini menjadi brand Dolok Sanggul, ibu kota kabutaen Humbang Hasundutan.

[ii] Inang: Ibu yang melahirkan kita; Panggilan penghormatan kepada orang tua perempuan; Sapaan terhadap kaum perempuan secara hormat.

[iii] Dongan Sahuta: Teman sekampung; Kerabat

[iv] Hatoban: Budak

[v] Kuda Putih: Yang diberikan pada calon raja yang terpilih; Simbol kekuasaan

[vi] Natua-tuam: Orang Tuamu

[vii] Oppung: Kakek; Dalam konteks ini oppungmu adalah kekek dari orang tua laki-laki, marga yang diikutinya

[viii] Tunggal Panaluan: Tonggat yang memiliki kekuatan roh, yang biasa digunakan berperang oleh etnis Batak.

[ix] Sahalah Ni Da Oppung: Roh Dari leluhur

[x] Anggi/Appara: Adik (cenderung dipakai untuk laki-laki)

[xi] Iboto/Ito: Saudara perempuan

[xii] Si Suan Bulu: Komunitas yang membuka satu perkampungan

Pesan Diakhir Waktu

Pesan Diakhir Waktu

Cerpen ini dimuat di Harian Sumut Pos

Kalau saja aku tau makna setiap detak detik jarum jam, maka aku tidak akan heran melihat pak tua itu berkali-kali mencocokkan jarum arloji tua di tangannya dengan jam dinding rumahku yang setahun lebih muda dari ku. Pak tua itu seorang pensiunan pegawai negeri spil yang telah puluhan tahun mengapdikan dirinya membangun generasi bangsa yang lebih baik, lewat sekolah negeri tempatnya mengajar. Dia kini tinggal sendiri setelah istrinya mendahuluinya menghadap sang Khalik, anaknya yang paling muda dengan cacat mental dan pengelihatan yang kurang bagus sempat menemaninya melewati hari-hari di rumah tua yang diperoleh dengan mengumpulkan gaji selama puluhan tahun.

“Sudah pukul berapa ini, jarum jamku akhir-akhir ini selalu telat menunjukkan waktu padaku. Padahal, aku sangat takut terlambat. Aku juga sedang menunggu seseorang datang menepati janjinya,” Dia memutar-mutar jarum jamnya dengan hati-hati, tidak seditikpun berbeda dengan jarum di dinding rumahku. Walau dengan mata rabun dia berusaha agar mesin penunjuk waktu yang melingkar di tangannya itu tidak salah.

“Arloji ini sudah tua, walau aku yang jauh lebih tua dari benda buatan penjajah ini. Kalau dulu saya selalu menyesuaikan waktu dengan terbitnya matahari, hingga dia tenggelam,” lanjutnya sambil berjalan menjauh dari tempatku berpijak.

Ada sesuatu yang aneh pada pak tua itu, dia lebih sering melihat jarum jam pada arlojinya daripada orang di sekililingnya. Dalam hitungan menit dia melihat jarum jam itu berkali-kali. Hingga, dia selalu menyesuaikan waktu dengan langkah, lirik dan gerak jari jemarinya. Tidak sedetikpun terbuang dalam mengisi hari-harinya walau waktu yang digunakannya lebih banyak merenung dan menunggu sesuatu yang tidak pernah diketahui orang lain.

Selang beberapa menit kemudian setelah pintu rumahku tertutup. Terdengar suara ketukan pintu mengganggu ruang sepi tempatku berimajinasi, mencari inspirasi untuk ku tuliskan menjadi larik-larik sajak ataupun sebuah cerita dalam dunia fiktif ciptaanku. Aku heran setelah melihat pak tua itu berdiri menunggu aku membukakan pintu untuknya. Dia memegang arlojinya, dan kembali menyesuaikan dengan jarum jam di dinding rumahku.

“Arloji ini kembali terlambat, padahal aku sudah tiga kali menyesuaikannya dengan jarum jam dindingmu. Entahlah, mungkin karena sudah tua. Jadi, tidak bisa sesuai dengan waktu yang sekarang,” Katanya sambil memutar-mutar pengatur arloji yang terlettak di sebeah kiri. Dia berusaha membuat jarum arlojinya sesuai dengan jarum jam dinding rumahku.

“Kalau dulu saya pergi mengajar, berjalan kaki puluhan kilometer dapat saya tempuh dengan waktu hitungan menit saja. Melihat jarum jam pada arloji ini membuat saya selalu tidak ingin ketinggalan. Saya selalu hadir lebih awal daripada anak-anak didikku. Kalau sekarang, untuk mengambil uang pensiun sajapun saya sering terlambat, bahkan terkadang tidak sanggup. Hingga, harus meminta tolong pada tetangga sebelah yang bekerja sebagai guru di sekolah dasar inpres,” Ucapnya sambil melangkah meninggalkanku kembali.

Pak tua itu memang dikenal sebagai salah seorang guru yang sangat disiplin terhadap waktu pada masa pengapdiannya dulu. Kedisiplinan itulah yang membuat banyak anak didiknya menjadi orang-orang yang memiliki kekuasaan di Negara ini. Pak tua itu sering mendapat kertas-kertas bertuliskan penghargaan. Walau yang lebih dibutuhkannya adalah biaya pengobatan anaknya dan kesejahteraan yang lebih layak.

“Di hati guru seperti kami yang ada adalah niat untuk mencerdaskan generasi seperti kalian. Kalau dipikir-pikir, totalitas kami untuk membangun negara ini sangatlah tinggi. Keinginan belajar anak didik kamipun demikian. Tidak seperti sekarang, seorang anak justru mengandalkan deking dari pada kemanpuan pikirannya,” Itulah sepenggal keresahan yang pernah diceritakannya padaku. Tentang perjuangan mereka dulu yang tidak diikuti oleh para penerus di negeri ini.

“Saya dulu menjadi guru bukan karena gajinya tinggi, seringkali upah rupiah yang kami dapat hanya sanggup untuk membeli beberapa kilo singkong sebagai pengganti beras. Tetapi, kami bertahan sebagai pendidik di negeri ini. Walau, saat sekarang ini tidak ada lagi yang peduli dengan kami,” Kekecewaan sering terucap dari mulutnya, meskipun negeri yang dibangunnya kini jauh lebih maju daripada jaman yang pernah ditaklukkannya.

Pak tua dengan arloji tua. Seperti dua mahluk berbeda yang saling memperhatikan. Tidak terpisahkan sekalipun langkah mereka tidak lagi beriringan, nafas mereka tidak serentak berhembus mengisi ruang pengap hasil dari upah yang didapat selama berbakti dan mengapdi pada negara. Pak tua itu memeliki beberapa orang putra dan putri, yang selalu menjadi beban hingga usianya yang melebih usia negeri ini. Sangat memprihatinkan, semestinya di usia tua itu dia dapat tersenyum menghitung waktu. Bukan resah menunggu sesuatu.

-o0o-

Hari berikutnya, seperti biasa dia selalu bangun mendahului matahari terbit. Jejak kakinya selalu yang pertama menapaki jalan setapak di depan rumah tuanya. Yang hanya sering dilalui pengembala dengan kawanan ternaknya. Dia menggedor pintu rumahku dengan begitu keras, seperti seseorang yang sedang marah pada penghuni rumah. Menagih sesuatu yang pernah di janjikan.

“Lama sekali kamu bangun, sudah pukul berapa ini. Arlojiku sepertinya tidak sesuai dengan waktu yang sebenarnya. Biasanya aku bangun pukul lima. Tetapi, arlojiku masih menunjukkan pukul tiga. Aku yang terlalu cepat bangun atau arlojiku yang sudah tidak sanggup lagi berputar mengelilingi lingkaran kecil tempatnya bertualang,”

“Pak, ini sudah pukul lima. Arloji bapak yang sudah rusak,” Jawabku sembari membersihkan kotoran mata yang selalu kudapati setiap pagi.

“Berarti aku masih tepat waktu, arlojiku yang sudah tidak waktunya lagi,” ucapnya sembari memutar kembali pengatur jarum jam pada arloji itu.

Ada seseorang yang berjanji padaku, sebenarnya dia berjanji kemarin. Pukul tiga! Tetapi, ini sudah pukul lima pagi. Dia belum juga datang menepati janjinya,”

“Janji apa yang bapak tunggu, dari semalam bapak selalu resah dengan waktu. Apakah janji itu yang membuat bapak selalu menyesuaikan jarum jam di rumahku dengan arloji bapak ? Tanyaku pada bapak tua itu.

“Janji itu sangat berharga, dan yang kutunggu itu juga sangat penting. Aku tidak akan tenang sebelum itu ada di depanku. Jikalau bisa, tolong datang kerumah bapak sore nanti. Aku sudah tidak yakin lagi dia akan datang dan menepati janjinya padaku,” Kemudian bapak tua itu pergi menuju rumahnya.

Dia melangkah membawa wajah lesu bersembunyi ke dalam rumah tuanya. Tidak melirik kiri kanan dan mengabaikan arloji yang digenggamnya. Dia berjalan bersama kekecewaan pada seseorang yang berjanji padanya. Janji itu seperti kata kunci dalam hidupnya. Dia tidak memiliki keluarga lagi untuk berbagi, seringkali keresahan dalam jiwanya di ceritakan pada awan, bunga dan entah apa saja yang ada di dekatnya. Anak-anaknya pergi entah kemana. Keterbatasan ekonomi yang dimiliki anak-anaknya membuat dia jarang dikunjungi.

Putranya yang paling tua dulunya adalah seorang pelajar terbaik, yang tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya yang dimilikinya. Sementara putrinya hanya dapat menuntu ilmu sampai kelas enam sekolah dasar saja. Pada waktu itu istrinya membutuhkan biaya yang banyak untuk mengobati penyakit yang biasa di derita masyarakat kurang mampu. Demikian juga dengan anaknya yang paling kecil. Menderita penyakit kurang gizi yang menyebabkan buta dan kemampuan berpikir yang rendah.

Anak-anaknya kini entah dimana. Beberapa bulan yang lalu putrinya datang menjenguk bapak tua itu, anak perempuannya itu mencari nafkah menjadi salah seorang kariawan kecil di salahsatu perusahaan swasta di kota seberang. Untuk mengurangi beban hidup ayahnya, perempuan itu membawa adiknya yang dulu menemani ayahnya. Hingga tinggal pak tua itu seorang diri di rumah tuanya.

Dia menganggap pengapdian pada negara adalah hal yang terpenting. Jika negara maju, maka masyrakat kecil seperti diapun akan sejahtera. Itulah yang terbersit dalam pikirannya. Namun, semaju apapun negara ini dia hanya dapat mendengarnya saja. Tidak merasakannya sama sekali.

Rumah pak tua itu berada tepat di belakang rumahku, jalan setapak menuju sawah yang terletak di samping rumahku adalah jalan satu-satunya menuju rumah tua itu. Berlumpur dan banyak lobang-lobang kecil yang sering digenangi air. Dia tinggal di sana sudah hampir duapuluh tahun. Sejak istrinya meninggal, dia memilih untuk menyepi. Agar tidak resah sendiri melihat kebahagiaan masyarakat di sekelilingnya. Mengasingkan diri dari pemukiman masyarakat sejahtera yang tidak pernah peduli padanya.

Di depan rumahku, ada sebuah rumah kumuh yang dihuni oleh seorang guru yang mengajar di sekolah dasar. Guru yang sudah memiliki tiga orang anak itu sering dikunjungi oleh pak tua. Pada guru itulah dia sering meminta tolong untuk mengambilkan uang pensiunnya, yang digunakan untuk melangsungkan sisa hidupnya. Pak tua itu juga sering memberikan sebagian dari gaji pensiunnya untuk membantu biaya hidup guru itu. Hal itu dilakukannya sejak anak-anaknya memilih untuk tidak memberitahukan alamat mereka pada pak tua yang dulunya sering mengirimkan uang pensiunnya untuk membantu perekonomian keluarga anak-anaknya.

Banyak harapan yang masih terendap di dalam benak pak tua itu. Tentang suatu negara yang menghargai guru sebagai pembangun generasi. Tidak cukup upah kecil walau dengan status pegawai negeri spil. Dia berharap seorang guru dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai ke ujung dunia. Seperti pejabat-pejabat yang lebih percaya pada negara asing dari pada negeri sendiri.

Namun, sampai saat ini itu belum terujut. Bahkan untuk bermimpi tentang hal itupun pak tua itu sudah pesimis. Dia melihat guru di depan rumahku yang masih jauh dari garis kesejahteraan. Bahkan sama dengan pemulung yang mengais sampah untuk diubah menjadi makan pokok. Sekalipun almamater pendidik melekat dipundak mereka. Pak tua itu perihatin melihat nasip para penerus perjuangannya. Dia pernah mengungkapkan ketakutannya, jika suatu saat nanti anak-anak akan takut bercita-cita menjadi seorang guru.

-o0o-

Aku mengamati rumah tua itu, kayu-kayu belapuk dan lombang rayap sepertinya telah menjadi warna hunian seorang abdi negara. Sunyi, tidak ada suara yang mendendangkan lagu-lagu pendidikan seperti biasa pak tua menyanyikan lagu itu dengan semangat mengenang perjuangannya dulu sebagai seorang pendidik. Aku mengamati rumah itu. Melihat sekeliling, barang kali pak tua sedang berada di wc yang terletak terpisah di belakang rumahnya. Namun, tidak setetespun terdengar percikan air. Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk dari dalam rumah. Aku yakin, itu adalah suara batuk pak tua.

“Pak…., pak….. aku sudah datang,” Sapaku dari luar rumahnya.

“Masuklah, pintu tidak kunci,” Akupun membuka pintu rumah, dengan liar mataku melihat sekelili tempat tinggal pak tua itu. Bau pengap dan tidak terurus sama sekali. Rumah itu tidak memiliki sekat ataupun ruang tidur khusus. Ada kompor yang warnanya telah menghitam, satu kuali dan satu periuk. Beberapa piring dan cangkir plastik serta cawan-cawan murahan anti pecah. Semua itu terletak tidak jauh dari tempat tidur pak tua itu berbaring. Ada kursi yang warnanya sudah pudar dan tidak begitu kokoh lagi untuk diduduki.

“Masuklah, tarik kursi itu ke dekatku. Aku ingin mengatakan sesuatu,” Pak tua itu berbaring berselimutkan sarung kusam yang sudah lama tidak dicuci. Dia mengeser pandangannya ke arahku, sembari bertanya “ Sudah pukul berapa ini. Arlojiku sudah terlalu terlambat. Aku hanya mendengar bunyi lonceng gereja, biasanya lonceng itu berbunyi tepatnya pukul enam pagi dan sore. Tetapi setelah lonceng itu terdengar, aku tidak tau lagi sekarang pukul berapa”

“Ini sudah pukul tujuh sore pak, apakah bapak masih menunggu seseorang yang berjanjin pada bapak. Siapakah orang itu pak, agar aku memanggil dan menyuruhnya menemui bapak,”

“Tidak perlu, pasti dia belum bias menepati janjinya. Dia sudah sering berjanji padaku, dan baru kali ini dia tidak tepat pada janjinya. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya belum bias datang dan membawa uang pensiunku,” Aku hanya diam saja mendengar kata-kata pak tua itu, walau sebenarnya aku mengerti mengapa pak tua itu memanggil aku datang kerumahnya.

“Sudah dua bulan aku tidak menerima uang pensiunku, aku iklas jika itu digunakan untuk menghidupi keluarganya. Saya mengerti susahnya kehidupan seorang guru di banding pegawai yang bekerja di instansi negara lainnya yang dapat korupsi dan mengambil sebagian uang rakyat.” Kata pak tua itu padaku.

“Saya sebenarnya tidak membutuhkan uang untuk makan enak dan membeli perlengkapan rumah tangga yang lebih layak. Hidup seperti inipun saya sudah senang, walau tidak pernah tenang,” Bapak tua itu melihatku kembali dengan wajah pucat dan tatapan yang tidak begitu tajam.

“Saat ini aku tidak memiliki sesuatu, hanya ada arloji yang selalu telat ini dan di bawah kasur ini ada kalung dan sepasang cicin kawin ku dengan mendiang istriku. Aku tidak ingin itu terjual, karena tinggal itu yang aku punya sebagai kenangan untuk anak cucuku kelak,” Dia tidak sanggup untuk bangkit dari pembaringannya, seperti ada sesuatu beban di atas tubuhnya yang membuat dia tidak dapat bangun dan duduk bercerita padaku.

“Jika aku pergi, tolong berikan itu pada anak-anakku, agar mereka dapat mengenang aku. Aku tau mereka sangat mencintaiku. Mereka ingin melihatku menikmati gaji pensiunku, dan tidak mengirmkannya pada mereka. Hingga mereka tidak pernah memberitahukan alamat mereka padaku. Tetapi aku yakin mereka akan kembali untuk menjengukku,”

Pak tua menitipkan amanahnya padaku, aku sudah yakin bahwa usia pak tua itu sudah tidak lama lagi. Walau, tadi pagi aku melihatnya masih segar datang dan mencocokkan jarum jam arlojinya dengan jam dindingku. Aku dapat merasakan itu dari amanah yang di berikannya padaku. Namun, aku belum juga tau siapa dan untuk pak tua itu menunggu seseorang.

“Nak, seseorang yang kutunggu itu adalah harapanku satu-satunya. Aku ingin menerima gaji pensiunku bulan ini agar ada membeli peti matiku. Tetapi, dia tidak datang untuk membawa uang pensiun itu,” Suara batuknya yang begitu keras membuatku tersentak dari tanyak di hatiku. Aku bergegas mengambil secangkir air yang terletak di sampingnya. Kemudian memberikan air itu untuk di teguknya.

“Aku akan pergi. Namun, aku berharap kau mau membuatkan peti matiku dari papan dinding rumahku ini. Aku tidak perlu menunggu dia lagi datang dan membawa gaji pensiunku. Mungkin dia lebih membutuhkannya…..,”

Air yang kuberikan padanya adalah tegukan terakhir yang dia minum. Dia pergi dengan damai setelah menitipkan amah itu padaku. Kemudian, kutemui penduduk sekitar dan memberitahukan bahwa dia telah pergi.****

Dolok Sanggul, Agustus 2007

Andung Ni Dainang[i]

Andung Ni Dainang[i]

Cerpen ini telah dimuat di harian Sumut Pos



Sudah tujuh kali aku menunggu bus malam di halte itu. Malam itu, aku melihat seorang perempuan yang sepertinya masih seusia dengan ibuku. Perempuan itu memikul keranjang dan mengumpulkan botol minuman bekas. Aku melihat punggungnya menunduk mengambil sebuah botol di dekatku, dengan wajah ditutupi sehelai kain. Hingga yang terlihat hanya mata lelah yang ingin beristirahat. Aku sempat bertatap mata dengannya. Namun, bus kota membuat aku harus berlari meninggalkannya tanpa menyapa atau memberikan sedikit senyum membalas tatapan itu. Di dalam bus aku selalu terbayang mata perempuan itu, sorot tajam menyiratkan ketakutan membuat ku bertanya-tanya tentang dia.

“Mungkin anaknya seusiaku, atau mirip denganku. Ah, hanya suatu kebetulan saja ibu itu menatapku. Barangkali ibu itu memang memiliki kelainan penglihatan,” Itulah yang terbersit dalam pikiranku. Hingga bayangan ibu itupun berlalu bersama bus yang membawaku meninggalkan tempat itu.

Aku tiba-tiba teringat pada ibu, ketika melihat seorang perempuan memeluk goni bekas masuk di halte selanjutnya. Perempuan itu duduk di sampingku bersandar dan memejamkan mata, melepas lelah dengan bau asam dari tubuhnya. Aku tidak merasa jijik, bahkan serasa ibuku sedang duduk di dekatku dan meletakkan kepalanya di atas pundakku. Sebenarnya aku juga lelah, menjelajahi gedung perkantoran dan pabrik-pabrik demi menjatuhkan lamaran pekerjaan yang entah keberapa. Namun, aku tidak ingin ibu itu kesal atau marah tidurnya terganggu jika aku pindah ke kursi penumpang lain.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan gang kecil menuju rumahku. Setelah bus berhenti, aku membangunkan ibu itu.

“Maaf ibu, saya ingin turun.” Perlahan dia membuka mata kemudian tersenyum dan menggeser kakinya dari hadapanku. Seperti biasa, aku tiba setelah adik-adikku tidur. Aku masuk mengambil kunci yang diselipkan di nako rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar itu. Di kamar adik perempuanku masih sendiri, ibu belum pulang dan menemaninya tidur. Sementara di ruang tamu yang sekaligus tempat ranjang ukuran enam kaki peninggalan ayahku, ada adik laki-lakiku. Mereka semua sudah tidur nyenyak, bahkan mereka tidak tau kalau aku sudah tiba di rumah.

Ibu tidak pernah memberitahukan apa pekerjaannya di luar sana. Ibu hanya berkata bahwa pekerjaan itu halal. Pergi siang pulang menjelang subuh. Dia pergi tidak membawa apa-apa. Namun, setiap pulang dia selalu meletakkan beberapa rupiah uang untuk ongkos kami bepergian. Kami pergi saat dia menyembunyikan lelah dalam tidurnya yang tidak nyeyak. Bahkan, ibu tidak tau apa yang dilakukan anak-anaknya di luar sana. Hanya ada sebuah keyakinan di hatinya, bahwa kami tidak akan menyianyiakan perjuangannya.

-o0o-

Malam selanjutnya, aku bertemu lagi dengan perempuan itu. Dengan baju yang ditutupi plastik anti hujan yang membuatnya dapat melanjtukan aktifitasnya sehari-hari. Walau hujan turun dengan begitu deras. Dia tidak berhenti mengumpulkan botol minuman bekas. Bahkan, sesekali dia harus berebut dengan sesama rekannya untuk mendapatkan botol-botol yang terbuang itu. Dia tidak menghampiriku walau dia melihat di dekatku ada beberapa botol minuman yang berserakan. Aku memungut botol minuman itu, kemudian memanggilnya.

“Ibu.., ibu…” Dia tidak menjawab. Namun membiarkan aku mendekatinya dan menerima botol-botol itu dari tanganku. Kemudian pergi entah kemana, meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ibu itu tidak menatap aku lagi seperti tatapannya pertama kali bertemu denganku dulu. Namun aku tersenyum, dapat melihat kedua bola mata yang menyimpan lelah itu. Aku semakin sadar pentingnya sebuah perjuangan untuk mencapai cita-cita.

Kembali aku harus segera berlari mengejar bus kota yang sudah berhenti hampir lima meter melewati halte tempat ku menunggu. Hingga aku melupakan mata lelah itu sejenak, walau seperti biasa ibu yang naik dengan memeluk goni di halte selanjutnya membuat aku kembali teringat pada ibu. Bau asam keringat perempuan itu sudah menjadi wewangian yang membuat aku tidak patah semangat. Perempuan itu berjualan di pajak sore. Hingga pulang tengah malam membawa beberapa rupiah dari keuntungan berjualan sehari-hari. Itulah yang pernah dikatakannya padaku setelah beberapa kali menaiki bus yang sama dan duduk berdekatan denganku.

Itu sudah digeluti perempuan itu sekitar dua puluh tahun yang lalu. Semua itu di lakukannya untuk memperjuangkan anak-anaknya yang kini duduk di perguruan tinggi. Tidak jauh berbeda dengan ibuku. Hanya saja, kami tidak pernah tau apa yang dikerjakan ibu di luar sana. Ibu hanya meyakinkan kami bahwa pekerjaan itu halal.

-o0o-

Aku anak pertama di keluarga ini, yang menyelesaikan pendidikan strata satu dengan nilai akhir sangat memuaskan dari salah satu perguruan tinggi swasta ternama di kota tempat ayah dan ibuku merantau ini. Beberapa tahun yang lalu saya menyelesaikan pendidikan itu, walau belum juga ada panggilan dari ratusan lamaran pekerjaan yang aku jatuhkan. Sudah hampir dua tahun aku melihat photo wisuda dengan toga hitam serta sebuah sertifikat hasil perjuanganku selama lima tahun itu. Namun, belum juga dapat gantikan lelah ibu.

Seperti ada rasa ketakutan pada ibu, jika kami mengetahui apa propesinya. Dia merasa kami akan patah semangat bila dibayang-bayangi propesi itu. Hingga akhirnya, kami memilih diam dan mensyukuri apa yang diberikan Tuhan melalui kasih sayang seorang ibu, yang terus berjuang hingga sekarang. Dia tidak pernah lelah bekerja untuk kami, yang tidak tau kapan dan dengan cara apa jasa-jasa itu dapat kami balas.

Diusianya sekarang semestinya dia duduk sambil menikmati perjuangannya. Namun, melihat adikku yang masih giat menuntut ilmu membuatnya semakin gigih untuk terus berjuang mengumpulkan rupiah demi rupiah agar dapat melanjutkan pendidikan itu ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sebagaimana ibu selalu berkata bahwa anakkon hi do hamoraon di au[ii].

Aku mau mengerjakan apapun untuk membantu kebutuhan keluarga, yang menjadi penghalang adalah perjuangan ibu. Aku tidak ingin dia prustasi melihat anak yang disekolahkan dengan perjuangan yang begitu besar hanya bekerja apa adanya saja, sama dengan mereka yang tidak berpendidikan. Secara langsung ibu berkata bahwa kamilah infestasinya untuk masa depan. Yang harus memperbaiki derajat keluarga dengan berlandaskan kasih. Dia tidak meminta kami kelak memberikannya harta yang berlimpah, cukup menunjukkan keberhasilan dari perjuangannya.

Demikianlah selalu yang tersirat dalam setiap perjuangan ibu yang masih memengang teguh filosopis leluhur kami. Dimana generasinya harus lebih tinggi derajatnya dari pendahulunya. Walau kini, sudah banyak perempuan-perempuan itu yang justru meniadakan perjuangan untuk generasinya. Bahkan, aku pernah menemui seorang anak yang dipaksa ibunya untuk menjadi pengemis. Ada juga yang dipaksa ibunya untuk menjual diri.

-o0o-

Halte itu kini telah menjadi persinggahanku. Terlebih setelah aku diterima bekerja di salah satu perusahaan penjualan mata uang asing sebulan yang lalu, yang kantornya berdekatan dengan halte itu. Perusahaan tempatku bekerja menjanjikan gaji yang lumayan serta bonus jika pekerjaanku memberikan hasil yang memuaskan untuk perusahaan. Namun, sudah hampir satu bulan juga aku tidak pernah bertemu dengan perempuan pengumpul botol bekas itu. Akupun sudah tidak begitu memikirkan dia lagi. Walau di hati kecilku ingin memberikan sesuatu dari apa yang kudapat hari itu.

Hari pertama sekali aku menerima gaji setelah bekerja di perusahaan itu. Ditambah ratusan ribuh rupiah bonus karena hasil pekerjaanku yang sangat memuaskan. Cukup lumayan uang yang kuterima sebagai imbalan kerjaku bulan itu. Bahkan aku ingin segera pulang dan berpesta dengan keluargaku. Menikmati makanan mewah yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, yang ku beli di toko makanan dekat halte tempatku menunggu.

Tidak sabar aku ingin memberikan semua yang kudapat itu kepada keluargaku. Aku terus menunggu bus kota. Entah mengapa malam itu, bus yang biasa kutompang terlambat hampir satu jam. Tiba-tiba mataku melihat perempuan itu muncul entah dari mana. Mataku terus tertuju padanya, berjalan bahkan sedikit berlari mendekatinya.

“Ibu, apa kabar.” Seperti tersentak dia mendengar sapaanku. Dia menoleh kemudian menatapku dengan sorot mata tajam, sebagaimana dia melihat aku pertama kali. Aku mengambil dua lembar rupiah berbahan plastik yang masih licin dan mengkilau. Itulah pertamakali aku memiliki uang pecahan rupiah sebesar itu. Hingga aku hafal nomor seri uang yang ku berikan pada ibu itu.

“Setiap kali melihatmu aku selalu teringat ibuku. Hingga aku tidak pernah putus asa untuk mencari pekerjaan karena ingin membahagiakan ibuku. Aku tidak tau apa pekerjaan ibuku. Namun, semua ibu yang berjuang untuk anaknya pantas mendapat penghargaan dari siapapun,” Ibu itu terus menatapku, dari mata lelahnya aku melihat ada beberapa tetes mutiara bening yang jatuh.

“Mohon terima ini, dan teruslah berjuang. Kelak anak-anakmu akan menghadiahkan hidupnya untukmu. Sebagaimana kau telah mengorbankan hidupmu untuk mereka,” Aku memberikan uang itu padanya. Dia tidak berkata apapun padaku. Hanya menjawab lewat tetes-tetes airmatanya.

Akupun kembali berlari mengerjar bus kota yang kutunggu, tidak sabar ingin bertemu dengan adik-adikku di rumah. Seperti biasa juga, ibu dengan goni bekas itu naik di halte selanjutnya. Aku tersenyum padanya dan menceritakan kebahagian yang menemaniku hari itu.

“Aku membeli banyak makanan, dan yang ini untuk ibu. Suatu saat ibu akan beroleh lebih dari apa yang perjuangkan hari ini,” Kataku sambil memberikan makanan kemasan yang kubeli. Saat turun aku membayar ongkos ku dan ibu itu. Kemudian, berjalan dengan langkah kaki cepat menuju rumah kontrakan kami. Aku ingin segera membangunkan adik-adikku, memberikan apa yang kubawa untuk mereka.

Dengan rasa bangga yang ditemani tetes-tetes airmata, aku melihat adik-adikku menikmati makanan itu. Sesekali mereka memberiku beberapa pertanyaan tentang pekerjaan yang kugeluti. Aku bahagia dapat memberikan semua itu untuk mereka. Walau, belum puas jika tidak menggatikan semua perjuang ibu untuk kami. Mengambil alih tanggungjawab menyekolahkan adik-adikku.

-o0o-

Pagi hari saat ingin pergi bekerja, aku menemui ibu di kamar tempatnya berbaring membuang lelah. Ingin segera memberikan beberapa rupiah dari gajiku bulan ini untuk digunakan membeli keperluan keluarga. Namun, ibu masih terbaring nyenyak. Sepertinya dia sudah memperoleh sebuah kebahagiaan dari lelahnya. Aku melihat itu di wajahnya yang berbaring dengan paras bahagia. Tidak pernah dia tidur senyenyak itu. Dia mungkin sudah mengetahui sukacitaku dari adik-adikku.

Aku tidak ingin mengganggu tidurnya. Namun, aku niatkan untuk memberikan uang yang kuperoleh padanya hari itu juga. Aku melihat dompetnya yang terletak di samping kepalanya. Mengambilnya dan membuka dompet itu. Aku tiba-tiba tersentak, dua lembar rupiah dari bahan pelastik yang ku berikan pada perempuan pengumpul botol bekas itu ada di dalam dompetnya.

Aku menangis dan ingin rasanya memeluk ibu. Namun, aku tetap tidak ingin mengganggu tidurnya. Kumasukkan beberapa ratus ribu rupiah ke dalam dompet itu. Kemudian pergi setelah mencium keningnya(***)

Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan 2007

***

Cerpen ini terinsfirasi dari lagu Sesep Ni Pangalaho ciptaan Dr Marusaha Lumban Gaol, dan ku persembahkan kepada inang-inang (Ibu-ibu) yang terus berjuang untuk anak-anak mereka. Terlebih yang tinggal di Medan, Sumatera Utara

Referensi dari bahasa Batak Toba


[i] Anndung Ni Dainang : Kesedihan seorang ibu /Kecemasan seorang ibu/Harapan seorang ibu

[ii] anakkon hi do hamoraon di au : Anakkulah kekayaan bagiku