Jumat, 23 Mei 2008

Aek Sibundong[i]

Aek Sibundong[i]

Telah dimuat di Harian ANALISA

Aku bingung harus menuliskan apa, walau telah aku jelajahi waktu dengan mengkhayal. Entah sudah berapa gelas kopi kuhabiskan di meja perenungan, pun tidak menghitung berapa kali bulan bersinar di malam yang tidak aku nikmati. Aku mencoba seperti penulis lain yang dengan mudah dapat membuat pena menari-nari di atas kertas tempat sejuta inspirasi tertuang. Namun, aku tidak sanggup seperti itu. Menulis perjalananku pun aku bingung. Padahal, telah kutelanjangi hati berjubah kekecewaan ini, dan telah pula kukuliti jiwa yang selalu resah.

Keputusanku malam ini untuk menjadikan kisah kita sebagai cerita untuk mereka bukanlah tanpa pertimbangan. Karena di ujung malam tempat aku merenung ada namamu. Aku telah berusaha menghapusnya dari ingatan. Namun, tinta yang kau gunakan untuk menuliskannya di dalam hatiku terlalu tebal. Hingga, setiap saat kau selalu terbayang. Kau selalu singgah walau sejenak. Mengganggu ketenanganku. Andai aku dapat menemuimu saat ini, aku akan memohon padamu agar jangan mendekati ataupun singgahi khayalanku.

Kau jadikan aku lelaki pencari langkah tanpa jejak, kala aku kebingungan untuk mengatakan ya atau tidak. Aku mengerti dengan semua pertanyaanmu. Tetapi, pernahkah kau mencoba memahami setiap kebisuanku. Di dalam hatiku ada namamu, dia, dan yang lain. Hingga tak pernah ada ketenangan di dalam diri yang membisu ini. Walau keseharianku penuh dengan pengungkapan kejujuran, antara benar atau tidak.

Perempuanku yang tidak kumiliki, aku jujur dalam kebisuan ini. Lewat inilah aku mengungkapkan kenyataan tentang aku dan kau. Aku memang tidak pernah berbohong pada perenungan. Tetapi, tak sekalipun aku pernah jujur dengan kenyataan. Aku tahu siapa aku. Walau, aku tidak mengerti bagaimana aku. Aku harus berkata padamu sebuah kenyataan. Tentang kita berdua.

Bukan perbedaan latar belakang pendidikan yang membuatku meninggalkanmu. Sebuah kutukan yang begitu seramlah buat aku tidak dapat menerima adamu. Kita memang telah bersama menapaki waktu tanpa perbedaan. Pengetahuan dan pendidikan telah membawa kita pada suatu perubahan. Namun, sumpah leluhur masih mengikat kita agar tidak salah melangkah, hingga kutinggalkan kau atas nama cinta sebagaimana leluhur kita pun tiada atas nama cinta.

-000-

Bila mungkin waktu dapat kembali ke masa lampau, pada saat kasta masih melekat dalam kehidupan di tempat ini, maka kita akan memperbaiki semua kesalahan itu. Tetapi, kita hanya dapat mengisi waktu sekarang dengan kenyataan dan yang akan datang dengan harapan. Karena kita bukan Tuhan, penguasa atas segala sesuatunya.

Berhentilah menangis. Airmatamu hanya sanggup basahi jubah jiwa yang melekat di ragaku. Jangan habiskan waktu dengan kekecewaan. Ini bukan salah kita, bukan juga dendam atas apa yang pernah terjadi. Lebih baik kita bangkit dan berjalan melangkah ke arah yang berbeda. Agar tidak ada lagi pertemuan antara generasiku dan keturunanmu. Berdoalah pada Tuhan, agar kelak semua yang terjadi dapat berubah pada kehidupan yang tidak memiliki batas.

Sebuah cerita masa lalu terulang kembali, kala kita memadu cinta di pinggir sungai tempat aku dan kau bertemu. Aku bertanya pada inang[ii], kenapa keluarga kita tidak dapat bersama, seperti dongan sahuta[iii] yang lain, bertegur sapa dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Yang terjadi justru saling menjauh dan membenci, walau kita saling mencinta. Tetapi, tetap saja itu tidak sebanding dengan dendam masa lalu yang membuat kita begini. Entah zaman apa ini, yang masih menganut paham perbedaan derajat antara si miskin dan si kaya, si pengembala dan majikan.

Kita telah berusaha mengubah pandangan itu, agar perbedaan dapat menyatu dan memberkati cinta kita, memberi kehidupan tanpa hujatan, dan menaburi langkah kaki dengan puja-puji pada Sang Kuasa. Namun, aku hanya generasi hatoban[iv] pengembala kawanan ternak sang raja yang tidak dapat memberikan kuda putih[v] perlambang penghormatan dan penyembahan pada raja. Walau kita telah memiliki sejuta mimpi tentang masa depan cerah, usai masa kelam itu, yang penuh dengan golongan, batas, dan hujatan.

Kau selalu bertanya mengapa aku tidak dapat menerima adamu. Padahal, kau seorang wanita terdidik dengan segala ilmu pengetahuan dan kemajuan yang telah melekat di benakmu. Leluhur tidak pernah membayangkan bahwa akan ada pertemuan generasi mereka setelah zaman itu. Segala kebijakan mereka telah membuat kita menderita oleh karena cinta.

Sekuat apapun cinta yang kita miliki, tidak akan pernah sanggup melawan kutukan cinta mereka. Mungkin, sumpah itu diikrarkan agar tidak terulang kembali kisah cinta dengan bunga-bunga perbedaan yang mencoreng harga diri sang penguasa. Namun, perlu ditegaskan bahwa keturunan kami tidak selamanya menjadi perusak kesucian raja, barangkali kutukan itu sudah dapat diakhiri setelah ini. Karena kutukan itu hanya membuat banyak jiwa merana tanpa mempelai yang mengisi ruang hati anak manusia.

-000-

Ada sumpah di masa lampau tentang dua marga di tempat ini yang tidak boleh menyatu. Antara margaku dan marga natua-tuam[vi]. Kisah pemuda anak seorang pengembala. Mendiang oppungmu[vii] orang terpandang. Awalnya tempat ini adalah milik keturunan margamu. Hingga terjadi beberapa konflik yang menimbulkan permusuhan yang menjadikan sungai ini batas antara dusunmu dan dusunku.

Perbedaan antara tuan dan pengembala tidaklah begitu berpengaruh sebagai batas hubungan antar derajat. Leluhur telah mengetahui akan kekuatan cinta dapat melebihi kekuatan apapun. Hingga diciptakan tatanan adat istiadat yang memberikan ruang untuk menyatukan cinta tersebut, sekalipun antara dua anak dari derajat yang berbeda. Namun, bagi leluhurmu tidaklah demikian. Harga diri seorang raja lebih mahal dari pada nyawa seorang manusia, mengorbankan anak untuk kekuasan pun tidaklah masalah.

Aku dapat melawan ribuan musuh dengan tunggal panaluan[viii] peninggalan leluhurku. Tetapi, aku tidak sanggup melawan sahala ni da oppung[ix], yang selalu singgah pada setiap perenunganku, dan mengingatkanku akan kisah yang telah berlalu. Namun, masih terjadi. Aku hanya dapat melihat Aek Sibundong yang kini semakin kotor dengan sampah-sampah manusia yang tidak menghargai kehidupan. Mencoba merenung, apakah mungkin di air keruh itu ada sumpah leluhur.

Aek Sibundong, tempat anggi[x] oppungku bertemu dengan iboto[xi] oppungmu, memadu cinta yang menjadikan sebuah zaman pertikaian. Perempuan bidadari di tempat itu adalah keturunan si suan bulu[xii] dan margaku adalah komunitas pendatang, pengembala ternak para tokoh pemilik kekuasaan di tanah kita ini.

Cinta sang lelaki telah telah membuat musibah besar bagi golongan hatoban. Seandainya tidak terjadi maka kelompok hatoban dapat bekerja mencari nafkah di wilayah kerajaan margamu. Cinta telah membutakannya akan perbedaan, membuat dia menyapa putri yang semestinya haruslah disembahnya. Demikian juga sang putri, yang mencintai lelaki yang seharusnya diperbudaknya. Tidak tahu bagaimana mereka dulu dapat saling mencintai. Hanya saja merekalah penyebab semua ini terjadi, dan dendam pun diciptakan turun temurun.

Ketika kisah cinta mereka diketahui oleh leluhurmu, terjadilah konflik antarmarga. Penindasan pun semakin dikuatkan kepada hatoban, yang memaksa satu persatu leluhurku pergi meninggalkan tempat itu. Lelaki itu teguh pada cintanya. Dia berusaha membawa perempuan itu pergi bersamanya. Namun, dia lemah dan tidak sanggup melawan para pesuruh yang siap mati demi menjalankan perintah sang raja. Mereka berpisah di Aek Sibundong, saat nyawanya telah berada di ujung pedang laskar-laskar kekejaman.

Saat nafas mendesah kesakitan oleh karena tusukan pedang di tubuh lelaki hatoban itu, dia berpesan pada perempuan itu, “Jika kau rindu padaku, pergilah ke Aek Sibundong, basuhlah tubuhmu di sana, karena aku ada di situ.” Kemudian dia pun mati dan dibuang ke sungai itu. Begitu besarnya cinta sang putri terhadap lelaki hatoban, membuat dia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, terjun ke sungai. Dia tidak ingin berpisah dengan lelaki pujaannya, bahkan pada kematian pun dia mengikutinya.

Kematian sang putri merupakan lambang dari sehidup semati, kesetiaan dan pengorbanan yang tidak ada duanya. Walau sang raja menganggap itu adalah kutukan karena mencintai seorang pengembala ternak. Raja tidak ingin kisah itu terulang kembali. Penyiksaan pada leluhur kami pun semakin menjadi-jadi. Para keturunan hatoban diasingkan di seberang Aek Sibundong, sebuah perkampungan tandus dengan bukit berbatu yang tidak dapat ditumbuhi tanaman apapun. Agar mereka menderita dan tidak dapat bertahan hidup.

Leluhurku yang teraniaya merasakan itu sebagai pesan hidup yang harus dibalaskan. Mereka bersumpah di atas Aek Sibundong, bahwa setiap generasi sang raja yang mencintai generasinya akan menderita dan teraniaya dalam kehidupannya. Saat sumpah itu diucapkan terlihatlah mendung dan gemuruh di langit, pertanda sumpah itu di setujui bumi. Mereka pun berjuang terus untuk hidup dan bertekat menjadikan generasinya yang terbaik. Tuhan menunjukkan banyak cara untuk memperbaiki nasib mereka, setelah satu persatu dari mereka tiada oleh karena penderitaan. Akulah generasinya kini.

Jika kutinggalkan kau di sana dengan ketidakpastian, bukanlah karena aku tidak dapat menerima perbedaan golongan. Aku memang sudah hidup dengan modernisasi. Tetapi, aku masih menjunjung tinggi pesan-pesan peradaban. Karena aku bagian dari semua itu. Maka, biarkanlah aku pergi mencari kepastian. Damailah engkau dengan penantian. Semoga kita berdua menemukan kebahagiaan kekal. “Jika kau rindu padaku, pergilah ke Aek Sibundong, basuhlah tubuhmu di sana. Karena aku ada di situ.” (****)


[i] Aek Sibundong: Sebuah sungai di daerah Dolok Sanggul, sungai ini menjadi brand Dolok Sanggul, ibu kota kabutaen Humbang Hasundutan.

[ii] Inang: Ibu yang melahirkan kita; Panggilan penghormatan kepada orang tua perempuan; Sapaan terhadap kaum perempuan secara hormat.

[iii] Dongan Sahuta: Teman sekampung; Kerabat

[iv] Hatoban: Budak

[v] Kuda Putih: Yang diberikan pada calon raja yang terpilih; Simbol kekuasaan

[vi] Natua-tuam: Orang Tuamu

[vii] Oppung: Kakek; Dalam konteks ini oppungmu adalah kekek dari orang tua laki-laki, marga yang diikutinya

[viii] Tunggal Panaluan: Tonggat yang memiliki kekuatan roh, yang biasa digunakan berperang oleh etnis Batak.

[ix] Sahalah Ni Da Oppung: Roh Dari leluhur

[x] Anggi/Appara: Adik (cenderung dipakai untuk laki-laki)

[xi] Iboto/Ito: Saudara perempuan

[xii] Si Suan Bulu: Komunitas yang membuka satu perkampungan

Tidak ada komentar: